Labels

Arsip Blog

Pengikut

Bagian III



Gitar Warung Pertigaan

“hoi..” sahutku reflek. “sudah datang terlambat, baru duduk sudah ngelamun” tambahnya. Aku tak menjawab, dia teman sebangkuku namanya adit dia berbadan agak gemuk berwajah bundar seperti kelereng hobinya memakan permen di manapun dan kapanpun tanpa mengenak tempat dan waktu, saat inipun dia sedang mengunyah permen ber-merk terkenal yang iklanya sering wira-wiri di televisi. Meskipun begitu dia teman terakrabku di dalam kelas.

“biarkan saja dit.. itukan hobinya datang terlambat” seorang cewek di depan bangkuku menyahut. “nyahut saja ni cewek jadi-jadian, kayak listrik” jawabku. “terserah aku dong.. wekkk” jawabnya ketus. Adit hanya berhaha- hehe mendengar pembicaraan ku. Yang baru saja ikut nimbrung pembicaraan adalah nisa, meskipun dia berpakaian seperti teman-teman cewekku di sekolah tapi tingkah lakunya lebih mirip pria, tidak seperti arti namanya, meskipun wajahnya lumayan cantik. Aku pernah berpikir mungkin tuhan keliru saat memberi kelamin kepada cewek jadi-jadian ini, mungkin keliru dengan sampingnya saat pembagian kelamin.

Setelah itu seorang guru wanita masuk berjalan bak model di atas catwalk, berparas biasa tapi bodynya seperti gitar warung pertigaan kata teman-temanku. Umurnya di atas 30an namanya bu diah, diah tresnowati lengkapnya beliau mengajar kimia. Adit senang sekali atas kedatangan bu diah karena beliau adalah guru favoritnya. Pernah aku bertanya kenapa dia nge-fans dengan bu diah jawabanya tidak begitu mengejutkan bagiku, “seksi boy..” begitu jawabnya dengan sangat yakin.

Setelah bu diah tepat di depan kami dan meletakkan tas jinjingnya di atas meja guru beliau memulai pembukaan pelajaran dengan mengucapkan salam “assalamu’alaikum anak-anak..”, “wa’alaikumsalam bu’..” jawab kami tidak serentak karena adit menjawab paling keras diantara kami. “baiklah.. kita lanjutkan pelajaran kita hari senin kemarin tentang reaksi kimia..” lanjutnya.

Berbeda dengan adit aku tidak terlalu tertarik dengan bu diah, bukan karena tubuhnya tapi karena menurutku terlalu kaku terutama cara mengajarnya dalam kamusku guru seperti bu diah ini di sebut guru bertipe akademis addict. Yang cara mengajarnya harus sama sepersis-persisnya seperti dalam aturan system pendidikan nasional.
Jadi, setelah bu diah mulai mengajar adit memperhatikan hampir tanpa berkedip, aku memutuskan untuk meneruskan lamunanku. Kembali bertopang dagu dan melihat pemandangan favoritku . .
*
Setelah bel 2 kali berbunyi itu berarti jam istirahat sekolah. Anak-anakpun mulai keluar dari kelas seperti semut yang keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Setelah kelasku sepi adit mengajakku pergi ke kantin lapar katanya, sambil malas-malasan aku berjalan mengikuti adit dari belakang, setelah melewati anak-anak yang sibuk dengan waktu istirahatnya masing-masing, ada yang bergerombol ada yang sendiri ada juga yang berdua. Berbelok ke kiri kemudian beberapa langkah kamipun sampai di kantin, ternyata sudah ramai di dalam kantin. Setelah memesan kepada bi minah penjaga kantin kamipun mencari tempat duduk, sayup-sayup terdengar ada yang memanggil kami, ternyata ina yang memanggil kami “adit.. galang.. sini”, ana adalah teman sebangku nisa. Kamipun menghampirinya dan memutuskan ikut nimbrung denganya.

Kantin kami tidak terlalu besar, mungkin ukuranya 5 x 7 meter berbentuk kotak tanpa satu sisinya. Di dalamnya terdapat 7 bangku dengan 6 kursi di masing-masing bangkunya. Setelah kami mau duduk ternyata di situ sudah ada cewek jad-jadian. “hai cewek jadi-jadian..” sapaku. Diapun tidak mau kalah “hai juga preman sekolah..”jawabnya dengan wajah di manis-maniskan. “sudah-sudah nggak di kelas nggak di kantin ribut aja” sela adit. “dia tuh yang memulai..” jawab nisa. Aku hanya tersenyum, sedangkan ina hanya diam saja memang dia cewek pendiam.

Setelah itu makanan pesanan kami datang di antar adik bi minah. Sambil menghabiskan makanan kamipun ngobrol tak tentu arah . .

Bersambung . . .

Evaluasi Pembelajaran


A.    Penggunaan Evaluasi Belajar
Menurut Oemar Hamalik, penggunaan hasil evaluasi dapat mengacu pada fungsi evaluasi itu sendiri, yaitu fungsi instruksional, fungsi administratif dan fungsi bimbingan. Dalam rangka fungsi instruksional, kita dapat menggunakan kita dapat menggunakan hasil evaluasi untuk memperbaiki sistem pembelajaran. Begitu juga dalam sistem administratif, kita dapat membuat laporan dan menetapkan kedudukan siswa dalam kelas. Sedangkan dalam fungsi bimbingan, kita dapat memberikan bimbingan bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar.[1]
Sementara itu, Wayan Nurkancana dan Sumartana merinci jenis penggunaan hasil evaluasi pembelajaran sebagai beriku: (a) menentukan naik tidaknya atau lulus tidaknya seorang anak. (b) mengadakan diagnose dan remedial. (c) menentukan perlu tidaknya pelajaran di ulang kembali. (d) menentukan perlu tidaknya suatu kelas dibagi-bagi dalam kelompok berdasarkan prestasi masing-masing. (e) membangkitkan motif anak-anak. Dan (f) memberikan laporan kepada orang tua/wali.
1.      Fungsi Instruksional
Berdasarkan hasil-hasil evaluasi yang telah dilakukan, guru dapat merancang kegiatan tindak lanjut yang perlu dilakukan baik berupa perbaikan (remedial) bagi siswa-siswa tertentu, maupun berupa penyempurnaan program pembelajaran. Dalam program pembelajaran, mencakup kemungkinan komponen-komponen yang terdapat dalam proses transformasi belajar mengajar membutuhkan perbaikan dengan melihat hasil evaluasi, komponen yang termasuk di dalamnya mulai dari guru, siswa, metode pembelajaran, media dan lingkungan.[2]

a.      Bagi Sekolah; Identifikasi kelebihan dan kelemahan laporan hasil evaluasi pembelajaran.
Laporan hasil pembelajaran perlu dilihat dan dipelajari oleh pengambil kebijakan pendidikan. Dengan melihat hasil laporan tersebut maka dapat diidentifikasi apakah pembelajaran selama ini sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dengan mengetahui hasil laporan maka kelemahan-kelemahan yang terjadi di dalam proses pembelajaran akan teridentifikasi secara baik. Selain identifikasi proses pembelajaran maka dapat dilihat apakah alat pembelajarannya sesuai dengan materi dan indikator, ataukah peserta didiknya yang memang ada masalah, hal ini perlu dilakukan analisis tersendiri. Keberhasilan dan kegagalan dalam hasil evaluasi pembelajaran terjadi karena faktor-faktor berikut, diantaranya adalah:
1)      Faktor akademik
2)      Non- akademik; hal ini menyangkut bisa saja faktor ketidak harmonisan keluarga, mengisolisir diri dari teman, ekonomi seperti tidak mempunyai buku.
b.      Peningkatan hasil belajar.
Setelah mengetahui berbagai bentuk kegagalan yang ada maka perlu diadakan peningkatan pembelajaran. Proses pembelajaran yang maksimal akan mengakibatkan hasil belajar yang baik. Dengan mengetahui keberhasilan dan kegagalan yang teridentifikasi maka dapat dilakukan kegiatan yang dapat memaksimalkan proses pembelajaran, disesuaikan dengan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan kegagalan tersebut. Atau dengan kata lain, alternatif solusi yang kita ajukan haruslah mengarah pada upaya untuk menanggulangi kegagalan dan menguatkan pendukung keberhasilan belajar peserta didik.
.       Peserta didik itu sendiri; Maka perlu dilakukan wawancara dengan peserta didik yang bersangkutan, orang tua atau teman dekatnya. Pemanfaatan informasi hasil belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran harus didukung oleh peserta didik, orang tua atau wali peserta didik, kepala sekolah, guru dan civitas sekolah lainnya.
Peningkatan hasil belajar. Setelah mengetahui berbagai bentuk kegagalan yang ada maka perlu diadakan peningkatan pembelajaran. Proses pembelajaran yang maksimal akan mengakibatkan hasil belajar yang baik. Dengan mengetahui keberhasilan dan kegagalan yang teridentifikasi maka dapat dilakukan kegiatan yang dapat memaksimalkan proses pembelajaran, disesuaikan dengan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan kegagalan tersebut. Atau dengan kata lain, alternatif solusi yang kita ajukan haruslah mengarah pada upaya untuk menanggulangi kegagalan dan menguatkan pendukung keberhasilan belajar peserta didik.


d.      Bagi Guru; merancang program pembelajaran remidi (perbaikan).
Program pembelajaran remidi diberikan hanya untuk kompetensi tertentu yang belum dikuasai oleh peserta didik. Program ini dilakukan setelah peserta didik setelah peserta didik mengikuti tes atau ujian kompetensi tertentu, tetapi peserta didik tersebut mendapatkan skor nilai di bawah standar minimal yang telah ditetapkan.
Dan program ini hanya dilakukan maksimal dua kali, apabila peserta yang sudah melakukan program remedial sebanyak dua kali namun nilainya masih di bawah standart minimum, maka penanganannya harus melibatkan orang tua atau wali murid. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam melaksanakan pembelajaran remidi, antara lain:
1)      Analisis kebutuhan, kegiatan yang dilakukan adalah dengan identifikasi kesulitan dan kebutuhan siswa
2)      Merancang motivasi belajar siswa dan lainnya.
3)      Melakukan pembelajaran, yaitu dengan merancang rencana pembelajaran dengan kegiatan merancang belajar bermakna, memilih pendekatan, metode/teknik dan bahan.
4)      Menyusun rencana pembelajaran, yaitu dengan memperbaiki rencana pembelajaran yang telah ada dan beberapa komponen perlu disesuaikan dengan hasil analisis kebutuhan siswa.
5)      Menyiapkan perangkat, misalkan berbagai soal LKS.
6)      Melaksanakan pembelajaran, yaitu dengan memberikan arahan jelas serta meningkatkan penilaian.
Kemudian model pembelajaran remidi itu ada tiga, yaitu:
1.      Dilaksanakan sebelum atau sesudah jam pelajaran sekolah.
2.      Dilaksanakan dengan jalan mengambil beberapa siswa yang membutuhkan remidi dari kelas biasa (regular) ke kelas remedial.
3.      Dilaksanakan dengan melibatkan beberapa guru (team).


e.       Merancang perancanaan, pelaksanaan, evaluasi, perbaikan program pembelajaran.
Keberhasilan pembelajaran yang dilakukan dilacak dari keberhasilan kita dalam melaksanakan pembelajaran. Untuk melacak dimana letak kesalahan sehingga hasil pembelajaran yang kita lakukan masih gagal, maka kita dapat menggunakan prinsip pengelolaan kegiatan manajerial, yaitu; perencanaan, pelaksanaan evaluasi dan perbaikan.

f.       Materi & Kurikulum; Merupakan sarana pendukung proses pembelajaran ke arah tercapainya tujuan pembelajaran. Meskipun penyusunan dan pengembangan kurikulum sekolah sudah dilakukan secara cermat dan melibatkan banyak pihak, namun demikian  di lapangan masih dijumpai kelemahan dan hambatan. Guru perlu dibekali kemampuan untuk melakukan evaluasi program, termasuk mengevaluasi materi kurikulum. Sasaran yang perlu dievaluasi dari komponen kurikulum adalah kejelasan pedoman untuk dipahami, kejelasan materi yang tercantum dalam silabus, urutan penyajian materi, kesesuaian antara sumber yang disarankan dengan materi kurikulum dan sebagainya.
g.      Sarana; Sarana pembelajaran dapat meliputi alat dan media pembelajaran. Sebelum guru memulai proses pembelajaran, bahkan pada waktu menyusun rencana pembelajaran, guru telah mengidentifikasi alat dan media pembelajaran yang  dapat mendukung terselenggaranya proses pembelajaran secara optimal. Ketidak tepatan pemilihan alat dan media pembelajaran dapat menyebabkan kurang berhasilnya tujuan pembelajaran. Secara bertahap selama berlangsungnya proses pembelajaran guru harus melakukan evaluasi tentang ketepatan pemilihan alat dan media pembelajaran.
Selain guru, siswa juga dapat dijadikan titik tolak dalam menentukan apakah sarana yang digunakan dalam proses pembelajaran sudah tepat atau belum. Mungkin saja pada waktu menentukan alat pelajaran guru berpikir bahwa pilihannya sudah tepat, tetapi ternyata dalam praktek pelaksanaan pengajaran, alat tersebut ternyata kurang atau sama sekali tidak tepat.
h.      Lingkungan; Lingkungan dalam proses pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi lingkungan phisik dan lingkungan non phisik. Lingkungan phisik dapat berupa manusia, media pembelajaran maupun sarana prasarana lain yang secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap hasil pembelajaran. Sedangkan lingkungan non phisik dapat berupa kondisi atau suasana yang ada di dalam kelas maupun di luar kelas, yang ikut berpengaruh terhadap hasil pembelajaran. Ketepatan lingkungan yang tercipta dalam proses pembelajaran ikut menentukan keberhasilan tercapainya tujuan pembelajaran.[3]
2.      Fungsi Administratif
Secara administratif, evaluasi pendidikan setidaknya mencakup dalam hal; memberikan laporan mengenai perkembangan dan kemajuan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Dan memberikan bahan-bahan keterangan (data) mengenai nilai-nilai hasil belajar peserta didik. Juga, memberikan gambaran mengenai hasil-hasil yang telah dicapai oleh peserta didik setelah melakukan evaluasi hasil belajar.[4]
a.       Bentuk Laporan Proses dan Hasil Belajar Mengajar
Pada dasarnya, pelaporan kegiatan hasil belajar merupakan kegiatan mengkomunikasikan dan menjelaskan hasil penilaian guru tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.
Laporan hasil penilaian proses dan hasil belajar meliputu aspek kognitif, afekti dan psikomotorik. Tidak semua mata ajar dinilai aspek psikomoriknya, penilaian pada aspek ini hanya pada mata ajar yang melakukan kegiatan praktek. Sedangkan untuk aspek kognitif dan afektif dinilai untuk seluruh mata ajar.
Informasi aspek kognitif dan afektif diperoleh melalui sistem penilaian sesuai dengan tuntutan indikator-indikator dari kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Sedang untuk aspek afektif diperoleh melalui lembar pengamatan yang sistematik, kuesioner dan inventor.
Penentuan batasan kelulusan harus memperhatikan dua aspek yaitu kognitif dan psikomotor, sedangkan untuk aspek afektif merupakan tambahan informasi tentang kondisi peserta didik yang berkaitan dengan minat, sikap, moral dan konsep diri.
b.      Teknik Melaporkan Hasil Belajar
Dalam mengkomunikasikan dan menginformasikan proses dan hasil belajar peserta didik, sebaiknya mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:
o   Mengguakan bahasa yang mudah dipahami
o   Memberikan perhatian pada pengembangan dan poembelajaran anak
o   Berkaitan erat dengan hasil belajar yang harus dicapai dalam kurikulum
o   Menginformasikan dengan benar tentang tingkat pencapaian hasil belajar.
c.       Manfaat Hasil Informasi Hasil Penilaian Proses dan Hasil Belajar
1)      Untuk peserta didik, informasi hasil belajar peserta didik di antaranya:
o   Untuk mengetahui kemajuan hasil belajar diri
o   Untuk mengetahui indikator-indikator yang telah ditetapkan yang belum dikuasai
o   Memotivasi diri untuk belajar lebih baik lagi
o   Memperbaiki strategi belajar
2)      Untuk orang tua, agar informasi penilaian hasil belajar bermanfaat haruslah akurat, di antaranya:
o   Membantu dan memberikan motivasi putra-putrinya belajar
o   Membantu sekolah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik
o   Membantu sekolah dalam melengkapi fasilitas belajar
3)      Untuk guru dan sekolah:
o   Mengetahui kekuatan dan kelemahan peserta didik dalam satu rombongan belajar dan sekolah yang mencakup seluruh mata ajar
o   Mendorong para guru untuk lebih baik lagi dalam memberikan pelayanan belajar kepada peserta didik
o   Membantu guru dalam mencari strategi yang tepat
o   Mendorong sekolah untuk memberikan fasilitas belajar yang lebih abaik lagi.[5]
3.      Fungsi Bimbingan
Bimbingan adalah proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahan diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah, keluarga, serta masyarakat. Dalam penerapannya di sekolah, definisi-definisi tersebut di atas menuntut adanya hal-hal sebagai berikut:
a.       Adanya organisasi bimbingan di mana terdapat pembagian tugas, peranan dan tanggungjawab yang tegas di antara para petugasnya.
b.      Adanya program yang jelas dan sistematis untuk: (1) melaksanakan penelitian yang mendalam tentang diri murid-murid, (2) melaksanakan penelitian tentang kesempatan atau peluang yang ada, misalnya: kesempatan pendidikan, kesempatan pekerjaan, masalahmasalah yang berhubungan dengan human relations, dan sebagainya, (3) kesempatan bagi murid untuk mendapatkan bimbingan dan konseling secara teratur.
c.       Adanya personil yang terlatih untuk melaksanakan program-program tersebut di atas, dan dilibatkannya seluruh staf sekolah dalam pelaksanaan bimbingan;
d.      Adanya fasilitas yang memadai, baik fisik mupun non fisik (suasana, sikap, dan sebagainya).
e.       Adanya kerjasama yang sebaik-baikya antara sekolah dan keluarga, lembaga-lembaga di masyarakat, baik pemerintah dan non pemerintah.
Evaluasi program bimbingan menurut W.S Winkel (1991: 135), adalah usaha menilai efisiensi dan efektivitas pelayanan bimbingan itu sendiri demi peningkatan mutu program bimbingan. Sedangkan menurut Dewa Ketut Sukardi (1990: 47) adalah segala upaya tindakan atau proses untuk menentukan derajat kualiatas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah dengan mengacu pada kriteria atau patokan-patokan tertentu sesuai dengan program bimbingan yang dilaksanakan.


[1]  Oemar Hamalik, Pendidikan Guru; Konse- Kurikulum-Strategi, (Bandung: PustakaMartiana, 1989), 177.
[2]  Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasa Evaluasi Pendidikan, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2009), 294-302.
[3]  Ibid.
[4]  Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2011), 13-14.
[5]  Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional, Prinsip-Teknik-Prosedur, (Bandung: PT. Rosdakarya, 1991), 4-5.

Didaktik Metodik






A.    Pengertian Didaktik dan Metodik
Dikdatik dan metodik adalah suatu istilah yang berasal  dari bahasa Yunani: did├ískein yang berarti mengajar, atau ilmu mengajar, atau ilmu yang mempelajari dan memberi syarat-ayarat umum yng diperlukan untuk memberikan pelajaran dengan baik kepada murid. Didaktik adalah teori pembelajaran dan, dalam arti luas, teori dan praktek penerapan pembelajaran dan belajar. Berbeda dengan matetik, sebagai ilmu belajar, didaktik hanya merujuk pada ilmu pembelajaran. [1]
Menurut Zakiyah Darajat, didaktik adalah  ilmu mengajar yang didasarkan atas prinsip-prinsip kegiatan penyampaian bahan pelajaran sehingga bahan pelajaran dapat dimiliki oleh siswa. Dalam hal ini ada interaksi antara guru dengan siswa dalam menyajikan materi pelajaran.
Jadi didaktik memberikan petunjuk-petunjuk umum untuk mengajar, dan berlaku untuk segala pengajaran dalam suatu mata pelajaran.
Metodik, atau metode yaitu cara mengajar. Sedangkan  menurut Zakiyah Darajat,  metodik yaitu suatu cara  dan siasat penyampaian materi pelajaran tertentu  terhadap siswa agar siswa dapat memahami, mengetahui, dan menguasi materi yang diajarkan        
Dalam mengajar ada 3 faktor yang harus diperhatikan:
1)      Pengajar
2)      Pelajar
3)      Bahan pelajaran
Dari uraian di atas dapat di pahami bahwa didaktik eratnya dengan :
  1. Guru sebagai sumber
  2. Murid sebagai penerima
  3. Tujuan yang akan di capai dalam pembelajaran
  4. Dasar sebagai landsan pembelajaran
  5. Sarana/alat berupa meja kursi, dll
  6. Bahan/ materi yang kan di sampaikan kepada siswa
  7. Metode untuk menyampaikan materi
  8. Evaluasi untuk mengukur keberhasilan siswa. (Basyirudin, 2002)

Sedangkan Fokus kajian didaktik adalah sebagai berikut:[2]
a.       Tujuan pembelajaran
b.      Bahan atau materi pemebalajaran
c.       Metode pembelajaran untuk menyampaikan materi

B.     Macam-macam Didaktik dan Metodik
Didaktik dibedakan menjadi 2 yaitu :
  1. Didaktik umum: memberikan prinsip-prinsip umum yang berhubungan dengan penyajian bahan pelajaran agar anak dapat mengasai suatu pelajaran
Dalam didaktika umum dipelajari aturan umum bagi seorang guru untuk dapat mengajar dengan sebaik mungkin dalam suatu bahasan tertentu. Beberapa hal yang secara umum perlu diketahui diantaranya tentang motif anak dalam belajar, evaluasi dan penilaian, penggunaan media pembelajaran, desain pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Dalam hal ini, pendidikan ditunjang oleh psikologi dan pedagogi. Selain itu dalam didaktik juga dibahas mengenai berbagai peran guru, antara lain sebagai perancang, pelaku, peneliti, sekaligus sebagai pelajar dalam suatu proses belajar mengajar.[3]
  1. Didaktik khusus: membicarakan tentang cara mengajarkan mata pelajaran tertentu yang mempunyai ciri khas tertentu. Didaktik khusus di sebut juga metodik
 Di sini dipelajari tentang bagaimana mengajarkan suatu materi khusus dengan sebaik-baiknya. Bimbingan tentang waktu dan tempat yang tepat serta persiapan dan pengajaran yang cocok oleh teman sejawat dalam suatu pelatihan merupakan metodologi pengajaran yang digunakan.



Metodik dibedakan menjadi 2 yaitu :
  1. Metodik umum : pengetahuan yang membahas  cara-cara mengajarkan sesuatu jenis materi palajaran tertentu secara umum artinya sacara garis besar cara pembelajaran serta kesulitan pada materi pelajaran tertentu.
Dalam mengajar tiap-tiap mata pelajaran terdiri dari:[4]
·         Rencana pelajaran
·         Jalan pelajaran
·         Sikap dan gaya
·         Bentuk pelajaran dan metode mengajar
·         Alt-alat pelajaran
  1. Metodik khusus: pengetahuan yang membahas tentang cara-cara mengajarkan suatu jenis materi pelajran tertentu secara mendetail artinya di uraikan sampai bagian-bagian terkecil.
Setiap mata pelajaran mempunyai nilai dan tujuan:[5]
·         Nilai formal: pembentukan daya-daya jiwa, pembentukan tabiat, membentuk watak, membentuk kemauan dan membentuk cita-cita.
·         Nilai praktis: fungsional, dapat dilaksanakan dalam kehidupan anak sehari-hari.
·         Nilai material: penambahan pengetahuan untuk tingkat pendidikan berikutnya.

C.    Prinsip-Prinsip Didaktik
  1. Didaktik menurut J.A.Comenius (Didactica Magna)
Menurut J.A.Comenius ada 10 prinsip didaktik:
·         Guru: metode induktif, persiapan mengajar serta bahasa.
·         Bahan pelajaran : harus real/nyata, natural/alami serta dapat dipraktekkan.
·         Murid : harus sesuai dengan perkembangan psikologi anak, demokratis, dilayani banyak hal dalam kehidupan serta banyak ulangan dan latihan. 
  1. Didaktik menurut J.L.Mursell
Menurut J.L.Mursell ada 6 prinsip didaktik:
·         Contextual (sesuai dengan kebutuhan sehari-hari).
·         Focus (mengarah pada tujuan akhir).
·         Prinsip individual (melayani tiap kebutuhan individu).
·         Social.
·         Scoupe and sequence (luas bahan dan urutan).
·         Evaluation (menilai sejauh mana kemampuan anak).


[1] Roestiyah, Didaktik Metodik, Jakarta: Bumi Aksara, 1994, hlm. 1.
[4] Reostiyah,….. hlm. 6
[5] Ibid, hlm. 7.