Senin, 08 Oktober 2012

Mengenal Samin dan Ajarannya

Oleh : (aldo el-fauzy)

Tulisan ini merupakan salah satu dari teks historis-sosiologis yang mencoba disuguhkan untuk mengenal suatu masyarakat secara komprehensif dan mendalam. Tulisan ini diharapkan menjadi suguhan kepada pembaca secara berbeda, karena sampai saat ini masih kentalnya pengetahuan masyarakat akan orang Samin tidak beda dengan masyarakat yang terbelakang, terisolir, dan anti kemajuan. Karena penulis khawatir dari kesekian kalinya kekerasan pada pemeluk aliran kepercayaan sering dipertontonkan, dan sangat mungkin terjadi pada pada entitas masyarakat Samin.
Tulisan ini merujuk dari berbagai sumber, termasuk buah tangan Sastroatmodjo (2003), film dokumenter mas Arto di Studio 12
Ungaran, dan hasil diskusi hasil KKL (Kuliah Kerja Lapangan) pada saat duduk di bangku kuliah di Program Studi Pendidikan Sosiologi & Antropologi Unnes.

Otak intelektual gerakan Saminisme adalah Raden Surowijoyo. Pengetahuan intelektual Kyai Samin ini didapat dari ayah, yaitu anak dari pangeran Kusumaniayu (Bupati Sumoroto, yaitu kawasan distrik pada kabupaten Tulungagung Jawatimur). Lelaki kelahiran tahun 1859 di Ploso ini sejak dini dijejali dengan pandangan-pandangan viguratif pewayangan yang mengagungkan tapabrata, gemar prihatin, suka mengalah (demi kemenangan akhir), dan mencintai keadilan.
Beranjak dewasa, dia terpukul melihat realitas yang terjadi, yaitu banyaknya nasib rakyat yang sengsara, dimana Belanda pada saat itu sangat rajin melakukan privatisasi hutan jati dan mewajibkan rakyat untuk membayar pajak. Pada saat itulah, Raden Surowijoyo melakukan perampokan pada keluarga kaya dan hasilnya dibagi-bagi kepada fakir miskin. Dia juga menghimpun para berandalan di Rajegwesi dan Kanner yang di kemudian hari menyusahkan pihak Gupermen. Pada saat itulah, Kyai keturunan bangsawan ini dikenal oleh masyarakat kecil dengan sebutan Kyai Samin yang berasal dari kata “sami-sami amin” yang artinya rakyat sama-sama setuju ketika Raden Surawijoyo melakukan langkah memberandalkan diri untuk membiayai pembangunan unit masyarakat miskin.
Kyai Samin Surosantiko tidak hanya melakukan gerakan agresif revolusioner, dia juga melakukan ekspansi gagasan dan pengetahuan sebagai bentuk pendekatan transintelektual kaum tertindas (petani rakyat jelata) dengan cara ceramah di pendopo-pendopo pemerintahan desa. Isi ceramah ini yaitu keinginan membangun kerajaan Amartapura. Adapun pesan substantif yang didengung-dengungkan yaitu meliputi; jatmiko (bijaksana) dalam kehendak, ibadah, mawas diri, mengatasi bencana alam, dan jatmiko selalu berpegangan akan budi pekerti.
Namun, akhir pergerakan dari Kyai Samin Surosantiko dicekal oleh Belanda dan ia dibuang ke Tanah Lunto pada tahun 1914, yang belum sempat mengaktualisasikan seluruh ide-idenya. Bukan hanya otak pergerakannya, bahkan kitab orang Samin yang ditulisnya juga disita yang berjudul Serat Jamus Kalimasada, demikian pula dengan kitab-kitab pandom kehidupan orang-orang Samin.
Kyai Samin Surosantiko merupakan generasi Samin Anom yang melanjutkan gerakan dari sang Ayah yang disebut sebagai Samin Sepuh. Sehingga pada masa kepemimpinannya, ajaran Saminisme terbagai dalam dua sekte, yaitu sekte Samin Sepuh dan sekte Samin Anom. Siklus kepemimpinan ini secara mati-matian berusaha menciptakan masyarakat yang bersahaja lahir dan batin. Kyai Samin memiliki sikap puritan, dia bukanlah petani biasa, namun dia adalah cucu dari seorang pangeran. Kyai Samin adalah orang yang gigih dalam menggoreskan kalam untuk membagun insan kamil dengan latar belakang ekonomi yang mapan.

Masyarakat Samin (Saminisme) memiliki tiga unsur gerakan. 
Pertama, gerakan yang mirip organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung. Kedua, gerakan yang bersifat utopis tanpa perlawanan fisik yang mencolok. Ketiga, gerakan yang berdiam diri dengan cara tidak membayar pajak, tidak menyumbangkan tenaga untuk negeri, menjegal peraturan agraria dan pengejawantahan diri sendiri sebagai dewa suci. Menurut Kartodirjo, gerakan Samin adalah sebuah epos perjuangan rakyat yang berbentuk “kraman brandalan” sebagai suatu babak sejarah nasional, yaitu sebagai gerakan ratu adil yang menentang kekuasaan kulit putih. Ajaran Samin bersumber dari agama Hindhu-Dharma. Beberapa sempalan ajaran Kyai Samin yang ditulis dalam bahasa Jawa baru yaitu dalam bentuk puisi tradisional (tembang macapat) dan prosa (gancaran). Secara historis ajaran Samin ini berlatar dari lembah Bengawan Solo (Boyolali dan Surakarta). Ajaran Samin berhubungan dengan ajaran agama Syiwa-Budha sebagai sinkretisme antara Hindhu-Budha. Namun pada perjalanannya ajaran di atas dipengaruhi oleh ajaran ke-Islaman yang berasal dari ajaran Syeh Siti Jenar yang dibawa oleh muridnya yaitu Ki Ageng Pengging. Sehingga patut dicatat, orang Samin merupakan bagian masyarakat yang berbudaya dan religius. Daerah persebaran ajaran Samin menurut Sastroatmodjo (2003) di antaranya di Tapelan (Bojonegoro), Nginggil dan Klopoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunngsegara (Brebes), Kandangan (Pati), dan Tlaga Anyar (Lamongan). Ajaran di beberapa daerah ini merupakan sebuah gerakan meditasi dan mengerahkan kekuatan batiniah guna menguasai hawa nafsu. Perlawanan orang Samin sebenarnya merefleksikan kejengkelan penguasa pribumi setempat dalam menjalankan pemerintahan di Randublatung. Tindakan perlawanan ini dalam bentuk gerakan mogok membayar pajak, mengambil pohon kayu di hutan semaunya, bepergian tanpa membayar karcis kereta, dan sebagainya. Perbuatan di atas membuat Belanda geram dan menyinggung banyak pihak yang menimbulkan kontradiksi yang tak kunjung padam dan membara. Pandangan orang Samin terhadap pemimpinnya sampai saat ini masih mengakui bahwa Kyai Samin tidak pernah mati, Kyai Samin hanya mokhsa dan menjadi penghuni kaswargan. Tokoh ini dimitoskan secara fanatik, bahkan pada momentum perayaan upacara rasulan dan mauludan sebagai ajang untuk mengenang kepahlawanan Kyai Samin. Setiap pemuka masyarakat Samin selalu berbegangan sejenis primbon (kepek) yang mengatur kehidupan luas, kebijaksanaan, petunjuk dasar ketuhanan, tata pergaulan muda-mudi, remaja, dewasa, dan antarwarga Samin. Bahasa yang digunakan oleh orang Samin yaitu bahasa Kawi yang ditambah dengan dialek setempat, yaitu bahasa Kawi desa kasar. Orang Samin memiliki kepribadian yang polos dan jujur, hal ini dapat dilihat setiap ada tamu yang datang, orang Samin selalu menyuguhkan makanan yang dimiliki dan tidak pernah menyimpan makanan yang dimilikinya. Pengetahuan orang Samin terhadap rites perkawinan adalah unik, mereka menganggap bahwa dengan melalui rites perkawinan, mereka dapat belajar ilmu kasunyatan (kajian realistis) yang selalu menekankan pada dalih kemanusiaan, rasa sosial, kekeluargaan dan tanggung jawab sosial.

Seiring berkembangya zaman yang menuntut masyarakatnya untuk berkembang, membuat orang Samin pun harus mengalamu perkembangan. Mereka percaya, bahwa dalam menuju kemajuan harus dilalui dengan marangkak lambat. Maju itu melalui proses, dan proses itu perlu tahapan-tahapan yang menjadi tangga untuk menjadi mayarakat yang maju. Hal ini dapat dilihat dengan perilaku menolak mesin seperti traktor, huller, dan lain-lain yang sekarang sudah mulai menerima. Yang dulunya hanya memakai pakaian kain yang didominasi warna hitam dengan bahan yang terbuat dari kain kasar, saat ini sudah mengalami perubahan. Dalam hal kepercayaan dan tata cara hidup suku Samin juga mengalami perkembangan. Kawasan daerah Pati dan Brebes, terdapat sempalan Samin yang disebut Samin Jaba dan Samin Anyar yang telah meninggalkan tatacara hidup Samin dahulu. Selain itu, di Klapa Duwur (Blora), Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) dikenal wong sikep, mereka ini dulunya fanatik, tapi kini meninggalkan arahan dasar dan memilih agama formal, yakni Budha-Dharma. Selain itu ada beberapa pikiran orang Samin yang perlu kita cermati, di antaranya; menguasai adanya kekuasaan tertinggi (sang Hyang Adi Budha), ramah dan belas kasih terhadap sesama mahluk, tidak terikat kepada barang-barang dunia-kegembiraan-dan kesejahteraan, serta memelihara keseimbangan batin di kalangan antar warga. Orang Samin dengan jelas mencita-citakan membangun negara asli pribumi, yang bebas dari campur tangan orang kulit putih, tiada dominasi barat satupun. Ajaran politik yang dikenalkan pada suku Samin dan patut untuk kita ambil pelajaran adalah bahwa orang-orang samin sangat cinta dan setia kepada amanat leluhur, kearifan tua, cinta dan hormat akan pemerintahan yang dianggap sebagai orang tua dan sesepuh rohani, hormat dan setia pada dunia intelektual. Itu yang harus kita tiru. 

Baca selengkapnya FKMB

Kamis, 20 September 2012

Hakikat Cinta dalam Rasionalitas Eksistensi Manusia

Oleh : Awaliya Nuris Shofifah

Biasanya dalam kehidupan sehari-hari kita merasakan ada perasaan-perasaan kita yang mungkin kita tidak bisa merasionalkan, seperti dalam hal “cinta” yang kadang orang mengatakan bahwa cinta itu kadang tak ada logika. Disini yang hendak dicari adalah apakah benar cinta itu adalah irasional? Atau apakah rasio dan cinta itu bisa bersatu? Kita akan melakukan suatu dialektis antara rasio dan cinta untuk mendapatkan suatu sintesa yang mendamaikan keseluruhannya.
Rasio dalam istilah ini berarti budi atau akal manusia. Bagi orang yang mengutarakan rasio dalam kehidupanya disebut rasionalisme. Rasionalisme adalah pendirian dalam cara berfikir yang menjunjung tinggi rasio atau akal dengan cara sedemikian rupa sehingga akal menjadi hakim yang mutlak atas segala sesuatu.
Aristoteles mengatakan bahwa rasio itu bersifat baka/abadi, hal ini menunjukkan bahwa tinggnya posisi rasio atau akal yang tinggi dalam kehidupan manusia karena ia terletak kepada keabadian.
Rasio manusia menemukan hakikat dari segala sesuatu yang merupakan kekuasaan abadi yang berada di luar manusia itu sendiri. Karena kekuasaan tersebut adalah penggerak alam semesta yang manusia sendiri tidak dapat melakukannya dan bersifat abadi, muncullah pengakuan manusia terhadap sesuatu kekuasaan di luar dirinya . Tetapi rasio manusia tidak bisa untuk menembus kekuatan luar itu seutuhnya, karena kebenaran yang abadi/absolute itu seutuhnya hanya milik yang maha mutlak, rasio hanya mampu mengantarkan kepada pemahaman manusia atas keberadaannya yang terbatas. Akibat dari ini muncul suatu perasaan luar biasa manusia terhadap kekuasaan tersebut sebagai tempat akhir untuk berlindung bagi manusia. Hingga hanya kekuasaan abadi tersebutlah yang patut di cintai, disinilah muncul perasaan-perasaan manusia akan kerinduan terhadap kekuasaan abadi, disinilah timbul intuisi yang merupakan pemahaman holistic tentang hakikat dari segala sesuatu yaitu melalui perasaan tentang totalitas keberadaan manusia yang transenden, yang oleh Al Ghazali disebut sebagai Al Dzawq sebagai pencapaian hakikat. perasaan tersebut dapatlah kita katakan cinta tuhan sebagai cinta sejati kemanusiaan.
Untuk mencapai cita yang sejati bukanlah hal yang mudah, karena keterbatasan manusia untuk hidup di alam semesta ini. Eksistensinya didunia ini yang menjasmani kadangkala menghalangi jalan menuju kesejatian manusia (Kembali kepada Allah).
Baca selengkapnya FKMB

Rasa itu tak kan pernah hilang

Karangan :
Arum Tina Al Fitri

Sore ini masih seperti sore-sore yang berlalu, Nuha sibuk dengan murid-muridnya di sanggar lukis. Satu hal yang beda, senyum yang biasanya sering ditampakkan kini tak terlihat lagi. Hatinya kacau dari semalam, batinnya gundah dan merasa takut. Pikirannya bercabang-cabang karena merasa tidak percaya pada apa yang di alaminya sekarang.
Pelajaran lukis dengan pola prisma mengakhiri aktifitas sore hari ini. Nuha masih tertunduk ketika dia bertemu dengan uminya ketika masuk rumah, tawaran makan siang dari uminya di tolaknya dengan enggan dan langsung mengunci pintu kamar, dan berbaring mengenang hari-harinya bersama wanita yang paling dicintainya, Luna.


Nuha tidak pernah mengerti apa sebenarnya yang diinginkan wanita yang ingin di nikahinya tahun ini. Sms yang tiba-tiba masuk dari Luna, murid lukis sekaligus pacarnya ini seketika itu menggoncangkan hati dan planningnya kedepan.
Luna memang wanita yang cantik dan smart, kesetiannya pada Nuha dapat diacungi jempol, meskipun mereka berpacaran secara long distance, mereka bisa bertahan selama 3 tahun, hingga pada akhirnya Luna meminta untuk mengakhiri hubungan mereka karena merasa tidak bisa mempertahankannya.
Berkali-kali Nuha mengulangi membaca semua sms dari luna.
“ Kak,, aku minta kita putus, aku udah gak kuat pcaran jarak jauh seperti ini, maafin semua salahku selama ini ke kakak”.
Itulah sms terakhir yang dikirim Luna pada Nuha, berkali-kali Nuha menghubungi ponselnya, berkali-kali pula operator menjawab jawaban non aktif di ponselnya.
Hari-harinya sepi tanpa Luna, badanya menjadi kurus dan sering sakit karena tekanan batin yang dia rasakan. Bagaimana tidak, semua juga tahu Nuha dan Luna adalah pasangan yang serasi di keluarga, teman dan orang lingkungannya, kabar tentang pernikahannya tahun depan juga sudah banyak diketahui oleh orang. Siapa yang tidak akan down, ketika suatu hubungan di akhiri secara sepihak, ketika hati disakiti oleh orang yang paling dicintai, ketika harus menanggung malu pada semua orang karena terbukti, pasangan pengantinnya telah pergi meninggalkannya. Berkali-kali Nuha masuk keluar rumah sakit. Dia tidak pernah terima pada apa yng diputuskan oleh Luna, dia terus berharap hingga suatu saat mereka bisa bertemu kembali.

Luna menatap lanngit-langit kamarnya yang bercat biru tua Setelah sampai satu jam
yang lalu, dari kuliahnya. Kenangan indah bersama mantan kekasih yang diputuskannya sepihak menyebabkan airmata yang tak terbendung jatuh kembali. Luna begitu merasa nyaman dan bisa jadi diri sendiri ketika bersama Nuha, pengertian dan perhatian dari cowok itu memang tak sepi Luna rasakan,meskipun kadang kejenuhan juga menghinggapi perasaan dan hari-harinya, Luna tetap berusaha mempertahankannya dengan mengingat kenangan-kenangan manis yang dilalui bersama Nuha.
Hingga pada akhirnya Luna harus memutuskan Nuha, karena dia tidak mungkin melepas beasiswa yang telah lama diingikannya. Gelar master dari Universitas Florida dengan jurusan abstaraksi desain. Itulah jalan yang dirasa harus dilewatinya untuk berproses menuju karier ynang diingikannya. Tak satupun teman yang tahu dimana Luna pergi setelah memutuskan Nuha, kecuali keluarga, dan meskipun begitu keluarganya begitu merahasiakan kepergian Luna, karena bila Nuha tahu maka hanya penderitaan yang akan dirasa dalam kesendirian menannti sang kekasih, dan Luna tidak mau itu terjadi pada orang yang dicintainya.
Matahari masih harus selalu terbit. Mawar dihalaman masih harus selalu mekar untuk menampakkan keharuman dan keindahannya. Hanya perumpamaan itulah yang mampu memberi spirit dalam hari-hari Nuha sekarang, tiada kata sedih, tiada kata senang, tiada kata semangat, tiada kata pesimis, semua berjalan statis, datar, tanpa ada yang interest dan amazing. Hanya keimanan dan wujud syukur kepada Allah sajalah yang mampu menggerakkan hatinya, bahwa ia harus bangkit dan melewati semuanya.
“Ya Allah, sesungguhnya engkaulah yang memberi perasaan cinta ini, engakaulah yang menuntun kaki ini untuk berusaha memupuk dan menjaganya, maka biarkanlah hambamu ini bahagia, bila akhirnya perasaan itu engkau ambil, dan biarkanlah tumbuh kerelaan bila akhirnya dia kan mencintai dan dicintai orang lain. Tapi, hanya satu yang aku minta darimu ya rabb, pertemukanlan hambamu ini dengan dia, untuk yang terakhir kalinya, supaya hamba yakin dan tahu bahwa dia benar-benar dalam lindungan-Mu selama ini”. Ya allah, ampunilah dosa kami, dan kabulkanlah doa ini.”
Itulah senadung untuk Allah disetiap malam-malam munajatnya, tak pernah berhenti hingga hampir dua tahun ini, perasaan dan cintanya tak bisa terkikis dan berkurang sedikitpun, meskipun banyak juga wanita shaliha yang dipilihkan ibunya untuk Nuha. Tekadnya kuat, sebelum Nuha bertemu dengan Luna untuk yang terakhir kalinya, dia tidak akan mencari wanita untuk dijadikan istrinya.

Ruang 7 kali 10 meter itu telah penuh dengan lukisan, Tema cinta lingkungan sepakat dipilih oleh anak-anak untuk mendesain sanggar dan tempat pameran ini. Anak-anak yang berseragam bathik khas Madura telah berjajar sepanjang pintu masuk pameran dengan wajah yang mengembang, mereka sedang memperhatikan guru lukisnya yang dengan bangga mempromosikan pameran muridnya dalam pameran tunggal lukisan abstrak Sanggar Budaya Anak Indonesia se-Jatim ini. Banyak tamu mancanegara maupun local yang berdecap kagum atas karya-karya muridnya.
Kring, Kring, Kring,,, cepat-cepat Nuha berlari dari pengunjung untuk mengangkat panggilan masuk di blackberrynya. Dilihatnya nomer yang tidak tertera namanya disana.
“Assalaamualaikum.” Nuha memulai pembicaran sesudah memencet tombol gambar telpon warna hijau di hpnya.
“waalaikumsalaam, hallo kak Nuha.”
“Iya, saya sendiri, ini siapa ya? ada yang bisa saya bantu?” tanya Nuha dengan hati bergetar.
“Hallo, ini Luna kak, Luna ada di depan sanggar sekarang, Kak Nuha bisa keluar sebentar kan?”
“Luna, hmm… Luna Aisyatul Zaro?” Nuha bertanya dengan keraguan.
“Iya kak, ini Luna, cepet keluar ya”
Klik. Terdengar hp yang dimatikan.
“Ya Rabbi,, cobaan apa lagi ini, Siapa sebenarnya wanita yang telpon tadi?”
Penasaran dan tidak percaya kini menghantui perasaannya, emosi akan peraaan rindu kepada Luna tiba-tiba membuncak menyergap seluruh hati dan pikirannya. Berhamburlah Nuha keluar dari sanggar dengan setengah berlari dan tetap dengan wajah yang tenang.
Di pintu masuk pengunjung, dilihatnya Luna berkerudung merah marun dengan gamis kaftan warna merah tua, begitu anggun dan cantik, disampingnya berdiri orang tua Luna dengan menyunggingkan senyum, Dan ya rabbi,,, umi,, dia juga ada disana, disamping ibunya Luna.
Nuha seakan tak berani menatap apa yang ada dihadapannya. Hati Nuha dipenuhi rasa penasaran yang berlebih-lebih disbanding tadi oleh kedatangan mereka, cepat-cepat Nuha bersalaman dengan Uminya dan kemudian orang tua Luna.
Tak pernah ditinggalkannya sholat malam yang telah mendarah di hati Nuha sejak kepergian Luna dua tahun yang lalu, tidak untuk dulu ketika sendiri, ataupun dengan kekasih hati yang Allah pilihkan untuknya. Seperti malam-malam sebelumnya, dua insan dalam cinta karena Allah khusuk bermunajat megharap ridho-Nya.
“Ya Allah ya Rabbi,,Begitu banyak kemurahan yang engkau berikan kepada kami,,Terimakasih, engkau telah melimpahkan sejuta kenikmatan, anugerah dan kesabaran dihati hamba dalam menghadapi semua cobaanmu. Ya Allah,, bimbinglah hambamu untuk menjadi imam yang sempurna buat istri hamba Luna Aisyatul Zaro. Ya Allah,, Ampunilah semua dosa kami dan ridhoilah kami”.
“Amiin ya Rabbal Alamiiin,,” Suara lembut Luna menyahut dibelakangnya setelah Nuha selesai berdoa.
Baca selengkapnya FKMB